21cinampex - Blood Red Sky jadi film monster-monsteran pertama kali yang saya saksikan di tahun ini. Tetapi rasanya saya tidak ingin kembali melihat film itu kembali di periode kedepan.
Narasi film ini sebetulnya tidak terlampau susah untuk dituruti. Formasi dasarnya tepat beberapa film pertandingan garapan Hollywood, hingga dapat diterka satu watak kurang lebih akan memainkan apa dan akan usai seperti apakah.
Film ini tidak memiliki plot twist atau jumpscare, formasi yang umumnya datang dalam film seram. Memang beberapa surprise di film ini masih tetap ada, tetapi tidak betul-betul membuat kaget.
Tetapi narasi dari film ini tidak sepenuhnya jelek. Mempunyai ide mendatangkan vampir yang usaha pulih tetapi selanjutnya terjerat pada keadaan sial dan justru jadi permasalahan baru, sebetulnya pantas dihargai.
Apa lagi mengangsung dampak yang dipakai, film ini sebetulnya dikerjakan dengan cukup niat. Dimulai dari dandanan prostetik, set pesawat, pergerakan camera, dampak visual CGI yang cukup smooth, sampai bermacam peralatan yang lain untuk hasilkan episode gore --bagi saya yang ringkih akan episode kekerasan ini-- berasa memberikan keyakinan.
Tetapi sayang sampai dua jam semenit berakhir, Blood Red Sky tidak cukup memberikan keyakinan saya untuk menjaga film itu dalam perincian putar film yang kemungkinan saya lihat di masa datang.
Hal paling awalan yang membuat saya berasa film ini tidak lumayan menjanjikan untuk dilihat kembali ialah ide ceritanya yang semacam dengan Train to Busan (2016).
Episode yang membuat saya terasanya kilas balik ke Train to Busan ialah saat Nadja (Peri Baumeister) yang telah berupa vampir usaha selamatkan anaknya, Elias (Carl Anton Koch), dalam pesawat yang sempit.
Walau tidak sama persis, kemelut dan rintangan yang ada dalam narasi itu serupa dengan tindakan Gong Yoo menggendong Kim Su-an dari gerbong ke gerbong saat lari dari zombi.
Memang dua film ini memakai tipe monster yang lain, tetapi ke-2 tipe makhluk itu sama membidik darah. Orang yang tergigit juga dapat terkena dan turut jadi monster.
Pentas khusus tempat semua sensasi bin kecemasan sejauh film juga sama berbentuk kendaraan yang tidak mungkin stop di tengah-tengah perjalanan.
Walau, dalam Train to Busan, kereta penuh zombi itu sempat stop di Stasiun Daejeon. Tetapi cerita balik lagi ke atas kereta sambil kejar-kejaran dengan zombi.
Dalam Blood Red Sky, pentas ada dalam pesawat komplet dengan beragam lorong dan ruang dalam pesawat. Beberapa penumpang yang diceritakan tersandera pembajak ini juga perlu usaha bertahan hidup dari dikejar pembajak yang psikopat dan vampir yang lalu-lalang.
Kemiripan ide ini membuat pikiran saya secara mudah memperbandingkan dua film itu. Ke-2 film ini sama membuat saya emosi. Perbedaannya, Train to Busan membuat saya geregetan sampai cemas dan emosional, tetapi Blood Red Sky semakin banyak membuat saya mencaci.
Hal yang membuat saya demikian kecewa atas film ini ialah munculnya sang bocah namanya Elias.
Maaf saja. Dibalik gantengg yang polos dan akting Carl Anton Koch yang mengagumkan untuk bocah belum puber, kehadiran Elias sebetulnya menyusahkan dan membuat keadaan makin kacau-balau.
Dia cuman lalu-lalang ketakutan panggil ibunya, yang mana membuat keadaan makin susah, dan menolong ibunya yang telah jadi vampir juga tidak bisa disebabkan dia masih bocah. Meskipun penulis Peter Thorwarth dan Stefan Holtz menyiapkan peranan khusus untuk bocah itu, namun tetap saja buat kecewa.
Tetapi di sanalah faktor pandai dari film ini. Elias ialah salah satu figur yang sanggup menggeret emosi pemirsa untuk masuk ke film dan rasakan degup adrenalin ceritanya, lepas adakah pemirsa yang berkesan atau malah kecewa seperti saya.
Baca Juga Artikel Menarik Lainnya : 6 Film Barat Terbaik Sepanjang Periode
Saya memang kecewa saat menyaksikan bermacam tindakan dalam film ini, tetapi saya cukup nikmati film ini walau berisi bermacam episode kekerasan yang membuat orang seperti saya pejamkan mata secara refleks. Saya terikut oleh ceritanya yang klise, entahlah karena saya kangen akan film 'receh' atau karena kekuatan film ini bawa saya ke ceritanya.
Kemiripan ide dengan Train to Busan tetapi mempunyai after-taste yang berbeda jauh itu yang membuat saya percaya tidak akan pilih film ini, minimal sampai saya lupa jika saya pernah melihat film ini.
Dampak Train to Busan yang benar-benar membuat jantung berdegap cepat tetapi dapat membuat sentuh rasa kemanusiaan itu yang tidak dapat dituruti Blood Red Sky. Walau film garapan Peter Thorwarth ini telah tampilkan beragam sinetron penyanderaan, pengorbanan ibu-anak, sampai masa lalu cinta.
Lepas dari keengganan saya kembali menyaksikan film ini di masa datang, saya memberinya nilai lebih atas beberapa rumor yang mencoba disentil dalam Blood Red Sky.
Bermacam rumor itu seperti eksperimen aktor pembajakan, saat pembajak sebenarnya malah memaksakan penumpang muslim untuk membacakan pengakuan tindakan pembajakan yang bakal dipublikasi.
Hal tersebut seakan menyentuh stigma sesungguhnya tindakan terorisme selalu dihubungkan dengan muslim, yang mana memacu islamofobia di tengah warga Barat.
Disamping itu, ada juga bermacam konspirasi yang mencekram pikiran warga dan mengaburkan bukti yang sebetulnya. Ini kelihatan saat beberapa penumpang cemas dengan tindakan pembajakan pesawat dan mereka mulai bertaruh, dimulai dari dari permasalahan saham sampai pemilu. Walau sebenarnya aslinya pembajak cuman ingin uang.
Belum juga tingkah beberapa penumpang pesawat yang sangat bermacam, dimulai dari biasa-biasa saja sampai belagu meminta ditonjok. Macam cerita yang umumnya kita kenali dari beragam komunitas di internet.
Namun tetap saja, semua selipan dan bumbu narasi itu tidak dapat membuat saya berasa film ini masuk ke "daftar lihat kembali". Masih tetap ada film sama yang lebih baik dan sama tegangnya tak perlu membuat saya berasa bingung saat daftar credit masuk ke monitor.
Blood Red Sky tampil 23 Juli 2021 di Netflix.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar